Ajang Olimpiade merupakan salah satu pesta olahraga terbesar dan paling dinantikan di seluruh dunia, yang setiap empat tahun sekali mengubah kota penyelenggaranya menjadi pusat perhatian global. Pemerintah setempat biasanya berharap acara ini tidak hanya membawa prestise, melainkan juga mendongkrak sektor pariwisata serta pembangunan infrastruktur jangka panjang. Namun, pantauan redaksi menunjukkan bahwa realitas di lapangan sering kali berbanding terbalik, di mana banyak kota inang yang justru kesulitan untuk mengalihfungsikan stadion-stadion mahal setelah kompetisi berakhir.
// RELATED STORIES
Berdasarkan laporan dari faroutmagazine, untuk setiap kisah sukses seperti pembangunan Copper Box pada Olimpiade London 2012, terdapat banyak sekali kegagalan yang kini berdiri tegak sebagai peringatan dari masa lalu sekaligus simbol pemborosan anggaran. Dari hasil pengamatan tim redaksi, alam kini mulai mengambil alih beberapa tempat suci olahraga tersebut, di mana rumput liar, grafiti, dan tumpukan sampah tampak mendominasi area yang dulunya dipadati ribuan penonton.
Olimpiade Athens 2004 di Yunani sering kali dijadikan contoh utama dari buruknya manajemen infrastruktur pasca-event. Dana dalam jumlah fantastis telah digelontorkan, namun sebagian besar fasilitasnya kini menjadi usang dan tidak terpakai, bahkan sering dikaitkan sebagai salah satu pemicu krisis ekonomi di negara tersebut. Salah satu bangunan yang paling ikonik sekaligus menyedihkan adalah Faliro Olympic Beach Volleyball Centre. Stadion yang dulunya mampu menampung hampir 10.000 penonton tersebut kini tampak sunyi, dipenuhi debu, pasir, serta coretan seniman jalanan lokal.
Menurut pengamatan tim redaksi di lokasi lain, komplek Hellinikon Olympic Complex yang dibangun di bekas bandara untuk menggelar pertandingan bola basket dan bola tangan juga mengalami nasib serupa, sebagian bangunannya telah runtuh dan terbengkalai. Begitu pula dengan Hellinikon Softball Stadium yang mulai hancur akibat ketiadaan perawatan rutin selama lebih dari dua dekade. Kerusakan ini diperparah oleh krisis ekonomi hebat yang melanda Yunani, membuat pemerintah setempat tidak memiliki anggaran memadai untuk melakukan restorasi.
Sayangnya, kegagalan di Yunani tidak sepenuhnya menjadi pelajaran bagi penyelenggara berikutnya. Rio de Janeiro yang menjadi tuan rumah Olimpiade Rio 2016 juga meninggalkan beberapa fasilitas olahraga dalam kondisi kosong dan tidak terawat. Meskipun bangunan seperti Olympic Aquatics Centre dan Future Arena awalnya dirancang sebagai struktur sementara, perencanaan mengenai proses pembongkaran dan pembangunan kembali di lokasi tersebut memakan waktu bertahun-tahun hingga memicu kritik publik.
Nasib tragis ini tidak hanya menimpa infrastruktur Olimpiade Musim Panas, melainkan juga Olimpiade Musim Dingin. Di Turin, Italia, lintasan bobsleigh, luge, dan skeleton bernama Cesana Pariol yang digunakan pada Olimpiade Turin 2006 telah ditutup sejak tahun 2011. Fasilitas yang menelan biaya pembangunan hingga 110 juta Euro ini dinilai terlalu mahal untuk dirawat, dan rencana renovasi untuk Olimpiade 2026 mendatang dikabarkan telah diabaikan oleh otoritas terkait.
Dari sekian banyak reruntuhan yang ada, lintasan bobsleigh di Mount Trebevic yang digunakan dalam Olimpiade Sarajevo 1984 mungkin menjadi yang paling ikonik sekaligus kelam. Hanya dalam waktu satu dekade setelah upacara pembukaan, wilayah Yugoslavia dilanda perang saudara hebat. Berdasarkan catatan sejarah, lintasan beton tersebut sempat dialihfungsikan sebagai posisi artileri militer selama pengepungan kota Sarajevo. Kini, bekas luka peluru dan perang berpadu dengan tanaman liar serta grafiti, mengubah tempat ini menjadi destinasi "dark tourism" bagi para wisatawan mancanegara.