Isu mengenai kenaikan tarif bus Transjabodetabek di seluruh koridor akhirnya mendapatkan klarifikasi resmi. Menurut pernyataan Pramono, kabar yang beredar mengenai adanya lonjakan tarif sebesar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 untuk seluruh rute layanan transportasi tersebut adalah tidak benar.
// RELATED STORIES
Berdasarkan penjelasannya, kebijakan penyesuaian tarif tersebut hanya akan diberlakukan secara selektif pada rute-rute tertentu saja. Pramono memberikan contoh bahwa salah satu koridor yang dipastikan bakal mengalami penyesuaian tarif adalah rute yang menghubungkan Blok M menuju Bandara Soekarno-Hatta.
"Sekali lagi, bagi saya, yang paling penting bukan perubahan atau penyesuaian harga, tetapi membuat warga Jakarta lebih nyaman, lebih menikmati Transjabodetabek," ungkap Pramono saat memberikan keterangan kepada media.
Dari pantauan redaksi, langkah kehati-hatian dalam menentukan formulasi tarif baru ini sengaja diambil oleh pemerintah. Hal tersebut dilakukan guna mengantisipasi risiko penolakan dari masyarakat, yang dikhawatirkan dapat memicu para komuter kembali beralih menggunakan kendaraan pribadi untuk mobilitas harian mereka.
Berdasarkan data yang dipaparkan, tingkat konektivitas transportasi umum di wilayah Jakarta saat ini diklaim telah mencapai angka 93 persen. Kendati demikian, tingkat penggunaan atau okupansi moda transportasi publik oleh masyarakat luas tercatat masih berada di bawah angka 30 persen.
Melalui pengamatan tim redaksi, bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta, Pemprov DKI Jakarta menaruh harapan besar agar angka partisipasi warga dalam memanfaatkan transportasi publik dapat terus digenjot. Sebagai langkah nyata, program gratis naik transportasi umum bagi 15 golongan masyarakat tetap dijalankan, bahkan Pramono membuka peluang untuk menambah kategori penerima manfaat baru ke depannya.