Nama Dusun Pentil yang terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah kerap kali mengundang senyum dan tawa bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya. Berdasarkan pantauan redaksi, keunikan nama ini kerap diasosiasikan dengan hal saru oleh masyarakat luas karena pengucapannya yang identik dengan kata dalam bahasa Jawa untuk puting payudara.
// RELATED STORIES
Dari pengamatan tim redaksi, Dusun Pentil sebenarnya merupakan satu dari enam dukuhan yang ada di wilayah Desa Gunungsari. Nama unik ini bersanding dengan dukuh lainnya seperti Gobog, Nganguk, Mulo, Pendem, dan Ngumpleng, yang semuanya telah melekat erat sejak zaman para leluhur dan tetap dipertahankan hingga saat ini.
Menurut penuturan Perangkat Desa Gunungsari, Sumijan, asal-usul nama Pentil sama sekali tidak berkaitan dengan makna negatif atau saru. Berdasarkan cerita para orang tua terdahulu, nama tersebut lahir sebagai refleksi dari kondisi sosiologis serta perekonomian masyarakat setempat pada masa lampau.
"Dulu diceritakan kalau orang sini berdagang atau usaha itu sulit berkembang. Kalau sudah mulai besar selalu ada kendala," kata Sumijan saat memberikan keterangan kepada media.
Berdasarkan filosofi tersebut, para leluhur dusun kemudian mengibaratkan keadaan ekonomi warga seperti buah yang baru tumbuh. Dalam bahasa Jawa, buah yang masih berukuran kecil disebut sebagai "pentil". Ketika usaha warga mulai menunjukkan perkembangan, kondisinya seolah kembali ke titik awal dan tidak pernah benar-benar membesar.
"Diibaratkan seperti tanaman yang mau berbuah. Sudah pentil, tetapi tidak bisa berkembang besar, lalu seperti pentil lagi. Begitu terus. Dari situ kemudian disebut Pentil," ujar Sumijan menambahkan penjelasan sejarah kelam roda ekonomi tersebut.
Dari pantauan redaksi, identitas nama unik ini terus bertahan hingga sekarang meskipun kerap menjadi bahan candaan. Sumijan mengaku sejak kecil dirinya sudah terbiasa mendengar guyonan dari teman-temannya yang berasal dari luar desa mengenai nama tempat tinggalnya.
Menurut ingatan Sumijan, dahulu ada ejekan yang cukup populer di kalangan anak-anak sekolah, yakni "Nganguk-Pentil Sewu". Sebutan jenaka itu merujuk pada kombinasi nama dua dukuh yang berada di Desa Gunungsari. "Kalau saya tidak apa-apa. Warga juga sudah terbiasa. Itu cuma bercanda saja," katanya sambil tersenyum.
Meski sering kali menjadi bahan lelucon, warga Dusun Pentil tidak pernah terpikir untuk mengubah nama wilayah mereka. Bagi masyarakat setempat, nama Pentil merupakan warisan berharga dari leluhur yang harus dihormati dan dijaga keberadaannya. "Sudah dari nenek moyang dulu. Tidak ada usulan ganti nama," imbuh Sumijan.
Menariknya, tim redaksi mengamati bahwa di balik nama yang tidak biasa itu terdapat sebuah tradisi mistik dan budaya yang hingga kini masih dipercaya sebagian masyarakat. Di Dusun Pentil terdapat sebuah pasar tradisional kuno yang dikenal oleh warga sekitar dengan nama Pasar Pentil.
Pasar Pentil bukan sekadar tempat transaksi ekonomi jual beli komoditas harian. Bagi sebagian warga di Kabupaten Rembang, pasar tersebut memiliki nilai simbolis yang sangat kuat dan berkaitan erat dengan ritual pemenuhan nazar atau kenduri keagamaan.
Menurut penjelasan Sumijan, seseorang yang memiliki hajat tertentu terkadang bernazar akan menggelar kenduri apabila keinginannya terkabul. Salah satu syarat sakral yang dipercaya secara turun-temurun adalah menggunakan jajanan pasar yang wajib dibeli langsung dari Pasar Pentil.
"Ada yang kendurinya di lokasi pasar, ada juga yang di rumah. Tetapi berkat atau ambengnya menggunakan jajan pasar dari Pasar Pentil," jelas Sumijan mengenai detail prosesi ritual tersebut.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, tradisi unik ini telah berlangsung sejak lama dan tidak hanya dilakukan oleh warga Gunungsari saja, melainkan juga diikuti oleh masyarakat dari desa-desa sekitar yang mempercayai tuah ritual tersebut.
Cerita serupa juga disampaikan oleh seorang warga Desa Babadan, Kecamatan Kaliori, bernama Masudi. Dirinya mengaku bahwa pihak keluarganya pernah menjalankan ritual nazar yang berkaitan langsung dengan keberadaan Pasar Pentil tersebut.
"Ibu saya pernah bernazar, kalau punya menantu akan mengadakan kenduri dengan jajan pasar dari Pasar Pentil. Memang kepercayaan warga sekitar seperti itu," tutur Masudi mengakhiri pembicaraan mengenai kearifan lokal daerahnya.