Sutradara legendaris Hollywood, Martin Scorsese, baru-baru ini mengejutkan publik setelah tampil dalam sebuah video promosi untuk perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) bernama Black Forest Labs. Dalam video tersebut, sosok yang selama ini dikenal sebagai penjaga kemurnian seni sinema justru memuji efisiensi AI dalam pembuatan gambar. Langkah ini memicu perdebatan sengit mengenai masa depan kreativitas manusia di industri film.
// RELATED STORIES
Dalam video promosi tersebut, Martin Scorsese menyatakan bahwa teknologi pembuatan gambar berbasis AI dapat membantu sutradara menyampaikan visi mereka dengan lebih akurat. "Tidak ada seorang pun di lokasi syuting selama 45 tahun terakhir yang tahu persis seperti apa gambar di dalam kepala Anda," ujarnya. Ia menambahkan bahwa visualisasi dari AI mampu menyampaikan kecerdasan sinematik dan memberikan kontrol lebih besar kepada sutradara.
Berdasarkan pantauan redaksi, sikap sang sutradara dalam video tersebut tampak seperti seorang dosen yang sedang mengajar, lengkap dengan cerita di balik layar mengenai teknik pengambilan gambar ikonik dalam film Goodfellas. Namun, keterlibatan Martin Scorsese ternyata tidak sekadar menjadi figur promosi, melainkan ia juga diketahui bertindak sebagai mitra resmi dari perusahaan Black Forest Labs tersebut.
Aksi ini langsung menuai kritik keras dari komunitas pencinta film dan para pelaku industri. Banyak pihak menilai hal ini kontradiktif dengan esai yang ditulis Martin Scorsese di New York Times pada tahun 2019. Kala itu, ia mengkritik keras film pahlawan super karena dinilai dibuat hanya untuk memenuhi permintaan pasar tertentu dengan tema yang terbatas, sebuah argumen yang ironisnya kini sangat relevan dengan cara kerja algoritma AI.
Saat dimintai keterangan oleh New York Times mengenai kontroversi ini, Martin Scorsese berdalih bahwa dirinya sangat tertarik pada titik temu antara teknologi dan seni bercerita. Menurut pengamatannya, sinema adalah media yang masih relatif muda, yakni baru berusia sekitar 125 tahun, sehingga industri ini harus tetap terbuka terhadap segala bentuk evolusi teknologi.
Dari pengamatan tim redaksi, keputusan Martin Scorsese untuk menyuarakan dukungan terhadap AI secara terbuka dinilai dapat memengaruhi kebijakan studio besar di Hollywood. Hal ini bertolak belakang dengan sikap para pembuat film lain, seperti Guillermo del Toro, yang terus konsisten menyuarakan perlindungan terhadap hak-hak seniman dan menentang dominasi kecerdasan buatan dalam proses kreatif.
Selain kontroversi AI, Martin Scorsese juga mendapat sorotan tajam karena keterlibatannya sebagai aktor dalam beberapa proyek film komersial baru-baru ini, seperti The Mandalorian and Grogu serta Outcome. Langkah-langkah terbarunya ini dinilai oleh sebagian kritikus dapat mengaburkan dedikasi dan kerja keras yang telah ia bangun selama enam dekade demi menjaga marwah seni sinema global.