Kabupaten Bolaang Mongondow telah lama dikenal sebagai daerah penghasil buah nanas dengan kualitas terbaik di wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Berdasarkan pantauan redaksi, komoditas buah segar ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi para wisatawan yang melintasi kawasan tersebut.
// RELATED STORIES
Menurut pengamatan tim redaksi di lapangan, para pelancong dapat dengan mudah menemukan kios-kios semi permanen yang menjajakan nanas segar di sepanjang tepi Jalan Trans-Sulawesi, tepatnya mulai dari kawasan Passi Barat hingga ke arah Kotamobagu.
Nanas khas ini tumbuh subur di area perbukitan Passi yang memiliki karakteristik tanah berkapur. Kondisi geografis tersebut menghasilkan buah nanas dengan cita rasa manis yang khas, aroma wangi yang kuat, serta warna daging kuning cerah yang menggugah selera. Tekstur daging buahnya cenderung padat dan renyah saat dikunyah.
Meskipun tidak terlalu berair, kesegaran dari buah ini tetap terjaga dengan sangat baik. Atas keunggulan kualitas tersebut, Kementerian Pertanian secara resmi menetapkan nanas madu asal Desa Lobong, Kecamatan Passi Barat, sebagai varietas lobong kuning sejak tahun 2004 silam.
Melihat popularitas nanas lobong kuning yang terus meningkat, Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow akhirnya menetapkan Desa Lobong sebagai sentra pengolahan nanas melalui program One Village One Product "OVOP" pada tahun 2017. Salah satu produk unggulan yang dihasilkan oleh industri rumahan setempat adalah selai nanas alami tanpa pengawet buatan.
Selain diolah menjadi selai, masyarakat setempat juga melakukan inovasi kuliner dengan memadukan buah nanas dan ikan roa menjadi sambal nanas roa. Hidangan ini menawarkan perpaduan rasa pedas yang pas dan gurih, sangat cocok dengan selera masyarakat Sulawesi Utara yang menggemari makanan pedas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, produk sambal nanas ikan roa ini sudah dipasarkan secara luas di berbagai toko swalayan di Kota Kotamobagu, Amurang, hingga Kota Manado dengan harga berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per botol. Produk inovatif ini bahkan sukses menyabet penghargaan OVOP dari Kementerian Perindustrian pada tahun 2022.
Dari pantauan redaksi, diversifikasi produk berbahan baku nanas di daerah ini terus berkembang pesat. Selain memproduksi madu nanas, dodol, dan keripik, warga di Desa Muntoi, Desa Wanga, dan Desa Otam juga memanfaatkan limbah daun nanas menjadi kerajinan serat daun nanas bernilai ekonomi tinggi seperti tas rajut.