Mane Horses Mane Horses
/home / travel / Gunung Bromo: Pesona Alam, Cerita...
TRAVEL

Gunung Bromo: Pesona Alam, Cerita Hidup, dan Tradisi Suku Tengger

by Tim Redaksi Mane Horses ⎯ 3 min read ⎯ 21 Juni 2026
Masyarakat Suku Tengger menggelar sesaji dalam puncak Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Masyarakat Suku Tengger menggelar sesaji dalam puncak Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Gunung Bromo yang terletak di Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, merupakan salah satu destinasi wisata unggulan yang tidak pernah kehilangan pesonanya. Setiap tahun, kawasan ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan langsung keindahan alam pegunungan yang begitu khas dan megah.

Berdasarkan pengamatan tim redaksi, daya tarik Bromo tidak hanya bertumpu pada keindahan lanskap alamnya semata, melainkan juga pada nilai budaya lokal yang sangat kuat. Tempat ini telah bertransformasi menjadi ruang hidup yang penuh dengan cerita, menjadikannya destinasi favorit bagi pelancong yang mendambakan pengalaman liburan yang mendalam dan menenangkan.

Menurut para pemandu wisata setempat, salah satu cara terbaik untuk menikmati keindahan Bromo adalah dengan menyambut fajar di Penanjakan. Lokasi ini dikenal luas sebagai titik pandang terbaik untuk menyaksikan panorama matahari terbit dengan latar belakang lautan pasir yang luas dan kemegahan Gunung Semeru di kejauhan.

Dari pantauan redaksi, para wisatawan biasanya sudah memadati area Penanjakan sejak dini hari agar tidak kehilangan momen sakral tersebut. Berdasarkan Journal of Environmental Psychology pada 2023, aktivitas melihat sunrise dan sunset terbukti dapat meningkatkan sensasi kekaguman, yang berdampak positif pada perbaikan suasana hati serta kesehatan mental seseorang.

Selain panorama alam, Gunung Bromo juga menawarkan keunikan kuliner khas masyarakat Suku Tengger yang tinggal di lereng gunung. Salah satu hidangan tradisional yang patut dicoba oleh para pelancong adalah nasi aron, sebuah makanan pokok yang terbuat dari olahan jagung putih hasil panen lahan lokal.

Menurut penuturan warga setempat, nasi aron memiliki tekstur unik dengan rasa yang gurih, memberikan efek kenyang lebih lama, serta tidak mudah basi hingga beberapa hari. Kuliner berkhasiat penghangat tubuh ini biasanya disajikan bersama lauk sederhana seperti sayur daun ranti, tahu, tempe, kentang, ikan laut, dan sambal terasi.

Tidak kalah unik, wisatawan juga dapat mencicipi hidangan iga pasir Bromo yang dimasak menggunakan media pasir panas sebagai penghantar panas. Berdasarkan metode memasak tradisional ini, daging iga sapi yang dihasilkan menjadi jauh lebih empuk dengan bumbu manis pedas yang meresap sempurna tanpa menyisakan butiran pasir sama sekali.

Pengalaman berwisata di Bromo akan terasa lengkap apabila pelancong berkesempatan mengenal kehidupan budaya masyarakat Suku Tengger melalui Upacara Yadnya Kasada. Ritual adat tahunan yang digelar setiap hari ke-14 bulan Kasada ini merupakan wujud penghormatan kepada leluhur dan Sang Hyang Widhi atas limpahan hasil bumi.

Dari pengamatan tim redaksi di lapangan, menjelang puncak acara ritual, masyarakat Suku Tengger akan berjalan berbondong-bondong menuju kawah aktif Gunung Bromo sembari membawa beraneka sesaji. Mereka berkumpul di Pura Luhur Poten untuk melangsungkan doa bersama sebelum akhirnya melarung hasil pertanian dan ternak ke dalam kawah sebagai simbol pengorbanan suci.

// TOPICS
#gunung_bromo #suku_tengger #yadnya_kasada #wisata_probolinggo #kuliner_tradisional #kearifan_lokal
Peramu Jurnal Perjalanan & Budaya

Redaksi Mane Horses adalah kawan-kawan yang terlalu sering bertanya, lalu memutuskan untuk menulis. Terdiri dari jurnalis budaya, travel writer, dan pendongeng ulung yang muak dengan konten perjalanan dangkal. Kami menyajikan cerita yang mengajak pembaca berhenti sejenak, merasakan, lalu melangkah lagi. Bukan yang tercepat, tapi yang paling haus makna.