Fenomena alam langka berupa bulan purnama yang tampak lebih besar dari biasanya atau Supermoon dipastikan akan menghiasi langit Indonesia. Berdasarkan konfirmasi dari peneliti utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, fenomena ini menjadi yang paling spesial. "Supermoon 5 November adalah yang terbesar karena berada pada jarak terdekat, 357.000 km dari rata-rata 384.000 km," kata Thomas menjelaskan rincian jarak perigee tersebut.
// RELATED STORIES
Menurut catatan astronomi, peristiwa Supermoon ini merupakan bagian dari rangkaian fenomena langit yang juga sempat terlihat pada 7 Oktober dan diprediksi kembali muncul pada 4 Desember. Dari pantauan redaksi, keindahan visual fenomena ini sangat bergantung pada faktor meteorologi lokal. Jika kondisi cuaca sepanjang malam cerah tanpa gangguan hujan atau awan tebal, masyarakat dapat menyaksikan piringan bulan dengan sangat jelas.
Menyambut momentum langka tersebut, Planetarium & Observatorium Jakarta membuka kesempatan eksklusif bagi 300 peserta untuk melakukan pengamatan bersama dari pusat kota Jakarta. Melalui kegiatan kreatif bertajuk "Piknik Malam bersama Supermoon", para peserta pilihan akan diajak mendalami ilmu falak. Acara ini dipusatkan di Gedung Planetarium dan Observatorium Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, rangkaian acara dijadwalkan berlangsung dari sore hingga malam hari, tepatnya pada pukul 17.00 sampai 21.00 WIB. Edukator Astronomi Planetarium dan Observatorium Jakarta UP PKJ TIM, Muhammad Rayhan memaparkan kenyamanan logistik bagi pengunjung. "Kegiatannya hanya sampai jam sembilan malam, jadi peserta tidak perlu membawa apa-apa," ujar Rayhan saat memberikan keterangan terkait teknis pelaksanaan.
Pihak penyelenggara menyediakan dua kategori akses masuk tanpa dipungut biaya, yakni Tiket Supermoon untuk 120 orang dan Tiket Bulan untuk 180 orang. Pemegang Tiket Supermoon mendapatkan fasilitas lengkap berupa talk show astronomi, melihat pertunjukan Planetarium Mini, serta sesi pengamatan langsung. Sementara untuk pemegang Tiket Bulan, aktivitas dibatasi pada sesi diskusi ilmiah dan pengamatan eksklusif menggunakan teleskop observatorium.
Dari pantauan redaksi di lokasi, simulasi visual menjadi salah satu daya tarik utama bagi para pencinta astronomi yang hadir. Menurut penuturan Rayhan, fasilitas khusus telah disiapkan demi memberikan pengalaman edukasi yang interaktif. "Pertunjukan Planetarium Mini adalah pertunjukan simulasi langit malam menggunakan proyektor dan inflatable dome," tutur Rayhan mengenai sesi simulasi berdurasi 30 menit yang dibagi ke dalam empat jadwal terpisah tersebut.