Menyelami isi pikiran seorang bintang film papan atas yang sedang berada di puncak popularitas selalu menjadi hal yang menarik. Berdasarkan catatan wawancara pada era 1970-an dan 1980-an, Burt Reynolds yang kala itu menjadi magnet terbesar di Hollywood kerap menunjukkan kejujuran yang mengejutkan. Di balik nama besarnya, ia sering kali mengungkapkan rasa minder terkait kemampuan aktingnya serta bagaimana para kritikus menilai karya-karyanya.
// RELATED STORIES
Menurut laporan yang dilansir dari Far Out Magazine, Burt Reynolds berada dalam dilema besar sepanjang kariernya. Di satu sisi, ia tidak menyesal telah membintangi deretan film komedi aksi yang mencetak sukses besar di pasar domestik. Namun di sisi lain, ia merasa film-film tersebut bukanlah sebuah karya sinema yang berkualitas baik. Reynolds sangat mendambakan pengakuan serius dari para kritikus film atas kerja kerasnya sebagai seorang aktor profesional.
Kontradiksi ini kemudian menjadi salah satu tema yang mendefinisikan perjalanan karier sang aktor. Dari pantauan redaksi, Reynolds merasa ada standar ganda yang diterapkan oleh para kritikus terhadap dirinya dibandingkan dengan aktor hebat lain pada masa itu. Ia mencontohkan karakter yang dimainkannya dalam film "Paternity", "Smokey and the Bandit", hingga "The End" yang dinilainya penuh risiko, namun tetap saja dianggap remeh oleh publik hanya karena dirinya yang memainkan peran tersebut.
Sikap blak-blakan Reynolds mencapai puncaknya saat membahas film komedi aksi balap mobil garapan sutradara Hal Needham yang bertajuk "The Cannonball Run" pada tahun 1981. Meskipun film tersebut sukses besar di box office, Reynolds secara mengejutkan mengaku mengambil proyek tersebut hanya demi membantu sang sutradara yang merupakan sahabat dekatnya, serta karena bayaran bernilai fantastis yang ditawarkan kepadanya.
Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, Burt Reynolds secara terbuka mengakui motifnya tersebut. "Saya tidak pernah menyukainya. Namun, saya merasa tidak bermoral untuk menolak uang sebanyak itu. Saya rasa saya telah menjual diri, jadi saya tidak bisa benar-benar keberatan dengan apa yang orang-orang tulis tentang saya," ungkap Reynolds jujur mengenai keterlibatannya dalam proyek film tersebut.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa Reynolds sama sekali tidak ambil pusing ketika kritikus terkemuka seperti Roger Ebert menyebut film tersebut sebagai bentuk pelepasan tanggung jawab artistik pada tingkat ambisi paling rendah. Bagi Reynolds, ulasan negatif yang mengujani "The Cannonball Run" adalah hal yang adil. Kejujuran yang langka ini memperlihatkan sosok kompleks di balik persona layar lebarnya yang santai dan penuh karisma.