Gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat mulai diwarnai oleh gelombang protes dari para suporter. Berdasarkan laporan para penonton yang memadati laga antara Prancis melawan Senegal di Stadion MetLife, New Jersey, perjalanan menuju lokasi pertandingan dinilai sangat menyulitkan akibat melonjaknya biaya akomodasi serta akses yang kurang nyaman.
// RELATED STORIES
Berdasarkan pantauan redaksi, para suporter yang mengandalkan moda transportasi massal kereta NJ Transit diwajibkan membeli tiket pulang-pergi seharga USD 98 atau setara Rp 1,7 juta. Tarif khusus yang diberlakukan selama turnamen sepak bola bergengsi ini memicu gelombang kritik dari publik lantaran nilainya dinilai terlampau tinggi jika dibandingkan dengan harga normal.
Menurut penuturan suporter asal Prancis, Sayo Ajagbe, biaya tersebut sangat menguras kantong untuk sekadar melakukan perjalanan penyeberangan ke area stadion. "Biayanya sangat mahal dibandingkan yang biasanya harus dibayar untuk menyeberang ke sana," kata Sayo Ajagbe sebagaimana dilansir dari New York Post. Dirinya juga mengaku tidak memiliki banyak alternatif moda transportasi karena terancam terjebak kemacetan parah jika memilih layanan taksi daring.
Keluhan senada juga diutarakan oleh penonton lain bernama Akshay Anil. Pria yang telah merogoh kocek hingga USD 800 (Rp 14 juta) untuk selembar tiket pertandingan ini menganggap kebijakan kenaikan tarif kereta tersebut sudah berada di luar batas kewajaran. "Kalau tarifnya sedikit lebih mahal, tidak masalah. Tapi USD 98 terlalu mahal. Itu sekitar delapan kali lipat dari harga normal," ucap Akshay Anil.
Dari pengamatan tim redaksi, kebijakan tarif khusus ini sengaja diterapkan oleh Pemerintah New Jersey untuk delapan laga Piala Dunia yang dihelat di Stadion MetLife sepanjang Juni hingga Juli. Kendati demikian, aturan kontroversial ini sejatinya telah menuai polemik tajam bahkan sebelum peluit sepak mula turnamen resmi ditiup.
Masalah ternyata tidak hanya mendera para pengguna transportasi umum, melainkan juga dialami oleh suporter yang membawa kendaraan pribadi. Anthony DeLuca, salah satu pemilik kendaraan, harus membayar biaya parkir fantastis senilai USD 225 (Rp 3,9 juta) dan masih diwajibkan berjalan kaki selama hampir 30 menit demi mencapai pintu gerbang stadion.
"Saya membayar hampir USD 300 untuk parkir dan tetap harus berjalan sangat jauh. Saya paham ada pertimbangan keamanan dan secara umum semuanya berjalan tertib, tapi saya punya masalah pada punggung, jadi berjalan sejauh itu cukup melelahkan, bahkan sebelum masuk stadion," keluh Anthony DeLuca.
Kondisi membingungkan turut dirasakan oleh wisatawan asal Prancis, Elodie Martin, yang sempat tersesat akibat banyaknya rute pengalihan serta barikade pembatas jalan di sekitar kompleks olahraga. "Setiap kali kami merasa sudah sampai, ternyata masih harus berbelok lagi. Begitu melihat kerumunan suporter dan jersey dari berbagai negara, semua itu memang terlupakan. Namun kalau ditanya apakah prosesnya lancar, jawabannya tidak juga. Untuk acara sebesar Piala Dunia, saya berharap aksesnya lebih mudah," tambah Elodie Martin.
Sebagai alternatif, sebagian penonton mencoba beralih menggunakan armada taksi konvensional dari Manhattan. Namun, para sopir lokal dilaporkan mematok tarif sepihak hingga USD 120 (Rp 2,1 juta) per rute, yang memaksa para suporter untuk saling berbagi tumpangan dengan orang asing demi memangkas biaya operasional mereka.
Kekacauan arus transportasi ini diprediksi masih akan berlanjut setiap kali pertandingan usai. Pada pertandingan-pertandingan sebelumnya di Stadion MetLife, ribuan suporter dilaporkan telantar hingga berjam-jam di area luar stadion akibat lonjakan permintaan yang membuat layanan transportasi daring seperti Uber dan Lyft mengalami kelangkaan armada.
Menanggapi situasi yang kurang kondusif ini, Gubernur New York, Kathy Hochul, angkat bicara dan menyatakan bahwa jajaran pemerintah daerah telah mengoperasikan armada bus gratis dari Manhattan sebagai solusi alternatif yang ramah kantong bagi publik. "Kami berharap perjalanan menuju stadion menjadi lebih mudah. Yang lebih kami khawatirkan justru perjalanan pulang. Kami ingin memastikan semua orang mendapatkan pengalaman yang lebih baik," tutur Kathy Hochul.