Mane Horses Mane Horses
/home / berita / Bagaimana Migrasi dan Kolonialisme...
BERITA

Bagaimana Migrasi dan Kolonialisme Mengubah Kuliner Global

by Tim Redaksi Mane Horses ⎯ 3 min read ⎯ 23 Juni 2026
Ilustrasi berbagai hidangan dunia yang dipengaruhi oleh sejarah migrasi dan kolonialisme global

Ilustrasi berbagai hidangan dunia yang dipengaruhi oleh sejarah migrasi dan kolonialisme global

Ada banyak alasan mengapa seseorang memutuskan untuk melakukan perjalanan, mulai dari melihat kebudayaan baru, mengunjungi monumen bersejarah, hingga menikmati kuliner lokal. Makanan sering kali menjadi pendefinisi utama bagaimana kita mengingat sebuah tempat. Menurut pengamatan tim redaksi, makanan kerap dianggap sebagai simbol identitas nasional yang kaku, padahal sejarah mencatat adanya silang budaya yang sangat masif di balik hidangan populer dunia.

Berdasarkan catatan sejarah, hidangan ikonis Inggris seperti "fish and chips" sebenarnya dibawa oleh imigran Yahudi dari Spain dan Portugal pada abad ke-17. Bahkan, kentang yang menjadi elemen krusial kuliner Inggris awalnya berasal dari pegunungan Andes dan dibawa oleh penjelajah seperti Sir Walter Raleigh dan Sir Francis Drake. Gelombang migrasi dari South Asia setelah Perang Dunia II juga memperkenalkan rempah-rempah seperti garam masala ke Inggris, hingga akhirnya "chicken tikka masala" kini kerap dianggap sebagai hidangan nasional mereka.

Kolonialisme juga meninggalkan jejak mendalam pada lanskap kuliner Asia. Di Hong Kong, masa kekuasaan Inggris memicu lahirnya hidangan adaptasi resep Eropa dengan bahan lokal, seperti sup makaroni dan daging babi asap. Sementara itu, dari pantauan redaksi di Macau, wilayah yang berada di bawah kekuasaan Portugal selama lebih dari 400 tahun telah menjadi titik temu kuliner Barat dan Timur. Kue tart telur atau "pastel de nata" kini menjadi sangat identik dengan Macau, melahirkan kuliner Macanese yang disebut-sebut sebagai makanan fusi pertama di dunia.

Fenomena unik lainnya dapat diamati pada hidangan "katsu curry" di Tokyo. Pada akhir abad ke-19, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang mengadopsi pola makan Royal Navy Inggris demi menjaga kesehatan kru kapal. Karena Inggris telah mengadopsi bubuk kari dari South Asia, resep sup kari tersebut bertransformasi menjadi kari Jepang yang populer saat ini. Ini membuktikan bahwa sepiring kari di Jepang memiliki akar sejarah yang melintasi benua melalui jalur militer dan kolonial.

Pengaruh kekuatan militer modern juga membentuk identitas kuliner baru di Korea Selatan melalui "budae jjigae" atau sup pangkalan militer. Hidangan yang mencampurkan kornet, sosis, dan keju olahan ini diciptakan oleh masyarakat setempat yang kelaparan setelah Perang Korea. Dari pantauan redaksi, apa yang awalnya merupakan upaya bertahan hidup di tengah kelaparan kini telah bertransformasi menjadi makanan kenyamanan yang dicintai dan menjadi bagian dari identitas nasional Korea Selatan.

Pengaruh Amerika Serikat juga sangat terasa di Philippines, di mana produk daging kaleng seperti Spam memiliki status kultus dan dapat ditemukan dalam berbagai variasi di supermarket setempat. Selain itu, masyarakat Philippines juga memiliki kecintaan mendalam pada spageti manis, sebuah pengaruh yang dibawa oleh kehadiran militer Amerika Serikat, yang sebelumnya mengadopsi hidangan tersebut dari para imigran Italia yang menetap di negara mereka.

Kawasan Caribbean menjadi contoh nyata lainnya dari wilayah yang kulinernya dibentuk oleh sejarah kelam perbudakan Afrika, kolonialisme Eropa, serta kedatangan pekerja dari India dan China. Hidangan seperti "roti" dan kambing kari menunjukkan pengaruh kuat dari South Asia, sementara kue pastri "patty" memiliki ikatan historis dengan "Cornish pasty" asal Inggris. Menurut para ahli, sejarah makanan membuktikan bahwa kebudayaan jarang sekali tumbuh dalam isolasi total.

Pada akhirnya, sejarah perjalanan makanan menunjukkan bahwa hidangan yang kita anggap sebagai inti dari identitas nasional sering kali merupakan hasil dari pertukaran, adaptasi, dan penemuan kembali selama berabad-abad. Dengan globalisasi yang mempercepat proses ini, batas-batas kuliner semakin kabur. Berdasarkan realitas saat ini, pizza terbaik kini bisa ditemukan di Tokyo dan taco yang luar biasa dapat dinikmati di Los Angeles, menandakan bahwa babak baru sejarah kuliner dunia sedang ditulis secara langsung.

// TOPICS
#kuliner_global #sejarah_makanan #migrasi_budaya #kolonialisme #akulturasi_kuliner #festival_makanan
Peramu Jurnal Perjalanan & Budaya

Redaksi Mane Horses adalah kawan-kawan yang terlalu sering bertanya, lalu memutuskan untuk menulis. Terdiri dari jurnalis budaya, travel writer, dan pendongeng ulung yang muak dengan konten perjalanan dangkal. Kami menyajikan cerita yang mengajak pembaca berhenti sejenak, merasakan, lalu melangkah lagi. Bukan yang tercepat, tapi yang paling haus makna.