Popularitas Bali sebagai destinasi wisata internasional utama memang sudah tidak diragukan lagi di kancah dunia. Namun belakangan ini, citra pulau dewata tersebut mulai dipertanyakan seiring munculnya gelombang kekecewaan dari para pelancong yang merasa liburan mereka tidak lagi sesuai ekspektasi.
// RELATED STORIES
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, fenomena anomali ini mulai bermunculan dalam bentuk opini jujur di berbagai travel blog ternama seperti Travel Eat Love, La Vie En Marin, dan Couple of Journeys. Banyak turis secara terbuka mengungkapkan rasa kecewa, bahkan menyesal telah datang ke Bali akibat beberapa persoalan akut yang belum teratasi dengan baik oleh pihak pengelola.
Faktor pertama yang menjadi sorotan adalah fenomena overtourism atau kepadatan yang berlebih. Dengan luas wilayah sekitar 5.780 km persegi dan populasi asli 4,4 juta jiwa, Bali kini harus menampung lonjakan hingga 6,3 juta turis akibat strategi pemasaran pop-kultur yang masif di media sosial. Dari pantauan redaksi di kawasan populer, esensi liburan untuk mencari ketenangan kini nyaris mustahil didapatkan karena padatnya antrean foto dan agresifnya penawaran jasa di sepanjang garis pantai.
Masalah lingkungan juga menjadi keluhan utama, khususnya darurat sampah plastik yang mudah ditemui di titik-titik ikonis seperti Pantai Kuta. Menurut data regulasi, Pemerintah Provinsi Bali sebenarnya telah merilis Surat Edaran (SE) Nomor 9 Tahun 2025 mengenai Gerakan Bali Bersih untuk melarang plastik sekali pakai. Namun, tantangan terbesar di lapangan tetap berada pada konsistensi penegakan hukum yang dinilai masih kurang maksimal.
Selain masalah kebersihan, ledakan kepemilikan sepeda motor yang menyentuh angka 4,5 unit berdasarkan data BPS kian memperparah situasi. Keadaan ini diperburuk oleh perilaku berkendara sebagian Warga Negara Asing (WNA) yang ugal-ugalan tanpa helm dan SIM, yang memicu desakan publik agar pihak berwajib segera melakukan tindakan tegas hingga deportasi.
Kemacetan lalu lintas total juga berada di tingkat yang sangat mengkhawatirkan, seperti yang sempat viral saat jalur tol menuju bandara mengalami kelumpuhan hingga memaksa turis berjalan kaki menyeret koper. Titik-titik seperti Jalan Raya Canggu, Ubud, Bedugul, dan Tanah Lot kini telah menjadi zona merah kemacetan. Situasi tersebut kian diperparah dengan maraknya kasus kriminalitas seperti pencopetan, penipuan akomodasi daring, serta biaya hidup yang dirasa semakin mahal oleh para pelancong.