Generasi muda di Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur, memiliki cara baru dan inovatif untuk melestarikan warisan budaya nonbendawi dunia. Melalui kreativitas mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (HMP DKV) Universitas Wiraraja, sebuah pameran buku cerita bertema keris dihadirkan dalam bentuk digital. Kegiatan ini menjadi bagian dari ruang kreatif bernama SOMA: The Spectrum of Madurese Arts.
// RELATED STORIES
Berdasarkan jalannya acara, pameran inovatif ini diselenggarakan dalam rangkaian Pagelaran Haul Akbar dan Jamasan Keris 2026 yang berpusat di Desa Aeng Tongtong, Kabupaten Sumenep. Alih-alih memamerkan fisik benda pusaka seperti pameran konvensional, para mahasiswa justru menghadirkan 10 judul buku cerita digital bertema keris. Setiap karya seni fiksi tersebut ditampilkan dalam bentuk poster menarik yang telah dilengkapi dengan kode QR khusus.
Salah satu ilustrator sekaligus kreator buku cerita digital bertajuk "Sayembara Keris Sakti", Fajri Maulana menjelaskan bahwa pengunjung cukup memindai kode QR menggunakan ponsel mereka untuk bisa membaca buku tersebut secara daring. "Kebetulan ini buku cerita karya saya sebagai ilustrator. Kami ingin menunjukkan bahwa keris juga bisa dikenalkan lewat cerita yang menyenangkan, muda lah," ujar Fajri Maulana saat diwawancarai di lokasi pameran.
Menurut Fajri Maulana, seluruh alur cerita yang dipamerkan merupakan murni hasil imajinasi para mahasiswa tanpa mengadaptasi kisah nyata atau legenda tertentu yang berkembang di masyarakat. Pendekatan imajinatif ini sengaja dipilih agar keris tidak lagi dipandang sebagai benda kuno yang mistis dan kaku. Melalui visualisasi modern, nilai-nilai luhur budaya keris diharapkan bisa terasa lebih dekat serta relevan dengan gaya hidup generasi muda saat ini.
Dari pantauan redaksi di lapangan, stan pameran yang berlokasi tepat di pintu masuk area jamasan keris tersebut sukses menarik perhatian besar dari masyarakat. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, juga turut mendatangi stan SOMA untuk memberikan apresiasi langsung terhadap karya digital para mahasiswa. Pendekatan kreatif ini dinilai efektif dalam merejuvenasi kecintaan pemuda terhadap budaya lokal agar tidak punah tergerus zaman.